Tana Toraja

Tana Toraja

Umum

Tana Toraja merupakan suatu kabupaten dengan ibu kota Makale yang termasuk di dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Tana Toraja merupakan salah satu tempat konservasi peradaban budaya Proto Melayu Austronesia yang masih terawat sampai saat ini.

Tana Toraja merupakan tempat tujuan wisata yang paling terkenal di Indonesia setelah Bali. Toraja yang dikenal dengan julukan Land of the Heavenly Kings ini memiliki kebudayaan yang tidak ada di daerah lain dan masih eksis hingga saat ini.

Pemerintah Indonesia berupaya supaya Tana Toraja bisa dikenal di dunia Internasional karena Tana Toraja memiliki kebudayaan adat istiadat yang masih sangat tradisional, misalnya seni tari, seni musik, seni sastra lisan, bahasa, ukiran, rumah, kuliner dan tenunan.

Maka dari itu sejak tahun 2009 pemerintah Indonesia mencalonkan Tana Toraja sebagai Situs Warisan Dunia ke UNESCO.

Jepang yang terlibat dalam upaya konservasi yang berkaitan dengan rumah adat Tana Toraja juga ikut mendukung pencalonan Tana Toraja sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Suku Toraja masih mempertahankan gaya hidup yang khas yang asli yang mendiami daerah pegunungan dan mirip dengan budaya Nias.

Seluruh objek wisata yang ada di Tana Toraja ini harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah karena Unesco telah menominasikan Tana Toraja sebagai salah satu dari 23 situs dalam daftar World Heritage Culture.

Tana Toraja yang dikenal sebagai tanah dari para raja ini memiliki panorama yang indah dengan pemandangan sawah dan gunung.

Di tempat ini anda bisa menonton seni ukir menghias rumah adat yang dikenal dengan rumah Tongkonan.

Di Tana Toraja anda bisa mengunjungi banyak situs tua misalnya pekuburan leluhur Toraja seperti makam goa purba di Londa, makam pahat di Lemo, makam aristokrat, menhir di Rante Karassik, perkampungan Kete Kesu, megalit dan lumbung padi di antara persawahan.

Tana Toraja juga memiliki sarana dan prasarana yang memadai misalnya jalan darat atau Bandara Pongtiku sebagai jalur transportasi yang menghubungkan Tana Toraja dengan daerah domestik lain atau dari luar negeri.

Selain itu Tana Toraja juga memiliki sarana pembangkit tenaga listrik yang cukup memadai, gas, air bersih serta jaringan komunikasi.

 

Geografi

Secara geografis Tana Toraja terletak di antara 2o- 3o LS dan 119o- 120o BT, di mana Tana Toraja berbatasan dengan Kabupaten Mamuju dan Luwu di utara, Kabupaten Pinrang, Enrekang dan Luwu di selatan serta Kabupaten Polmas di barat.

Tana Toraja terbagi menjadi 29 kecamatan dan 268 Kelurahan dengan luas wilayah kabupaten sebesar 3,2 ribu km2.

 

Hasil Perkebunan

Kabupaten Tana Toraja terkenal dengan hasil perkebunan dengan komoditi utamanya yaitu kopi Arabika yang dikenal sejak lama sebagai salah satu kopi yang terbaik di dunia.

Sedangkan hasil pertanian yang cukup terkenal di Tana Toraja adalah  jagung, padi, ubi kayu, kacang kedele, kacang tanah, kacang hijau, palawija, sayur-sayuran dan tanaman holtikultura.

 

Bahasa

Bahasa yang mendominasi di Tana Toraja adalah Bahasa Toraja dengan dialek bahasa utama Sa’dan Toraja.

Meskipun di seluruh Sekolah Dasar di Tana Toraja sudah diajarkan bahasa Toraja, namun bahasa Indonesia masih sering digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari masyarakat setempat.

Bahasa Toraja memiliki banyak ragam yang terpengaruh dari masa penjajahan kolonial Belanda sehingga wilayah Toraja yang terisolasi membentuk berbagai macam dialek yang tidak sama.

 

Agama Atau Kepercayaan

Sebagian besar dari suku Toraja memeluk agama Kristen, sedangkan sebagian lainnya menganut agama Islam dan Aluk Todolo yang merupakan kepercayaan animisme.

Pemerintah Indonesia telah resmi mengakui kepercayaan Aluk Todolo sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Suku Toraja memiliki sistem kepercayaan animisme politeistik atau aluk yang kadang digunakan sebagai “hukum” masyarakat setempat.

Berdasarkan mitos Toraja disebutkan bahwa leluhur Toraja berasal dari surga yang datang melalui tangga di mana suku Toraja menggunakan hal ini untuk berhubungan dengan dewa pencipta kehidupan, yaitu Puang Matua.

Melalui Aluk disebutkan bahwa dunia terbagi menjadi 3 bagian yaitu surga sebagai dunia atas, bumi sebagai dunia manusia serta dunia bawah sebagai dunia hewan.

Pada mulanya bumi dan surga menikah lalu menghasilkan kegelapan, pemisah dan muncullah cahaya.

Dunia bawah sebagai dunia hewan memiliki lambang dengan bentuk persegi panjang yang dibatasi dengan 4 pilar, tempat bagi umat manusia adalah bumi dan surga berada di atas yang tertutup dengan atap yang berbentuk pelana.

Dewa-dewa lain yang dikenal sebagai Dewa Toraja adalah Dewa Bumi (Pong Banggai di Rante), Dewi Gempa Bumi (Indo’ Ongon-Ongon), Dewa Kematian (Pong Lalondong), Dewi pengobatan (Indo’ Belo Tumbang) dan sebagainya.

Seorang pendeta Aluk (to minaa) adalah seseorang yang memiliki kekuasaan di bumi di mana ucapan dan tindakannya harus dipegang dengan baik dalam upacara pemakaman hingga kehidupan pertanian.

Selain memiliki peran sebagai sistem kepercayaan, Aluk juga merupakan gabungan dari agama, hukum dan kebiasaan.

Aluk mengatur segala kehidupan masyarakat Toraja, termasuk dengan ritual keagamaan dan pertanian. Di sisi lain tata cara Aluk antara satu desa dengan desa yang lain bisa berbeda.

Hukum yang sangat terkenal di Tana Toraja adalah adanya suatu peraturan bahwa 2 ritual yang penting, yaitu ritual kehidupan dan kematian harus dilakukan secara terpisah.

Suku Toraja meyakini jika pelaksanaan dari ritual kehidupan dan kematian dilakukan bersamaan maka ritual ini bisa menghancurkan jenazah.

Pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Toraja yang beragama Kristen tidak diizinkan untuk menjalani ataupun menghadiri ritual kehidupan, namun masih diperbolehkan untuk menjalani ritual kematian.

Hingga saat ini ritual kematian masih sering dilakukan oleh masyarakat Toraja walaupun sudah mulai jarang dilaksanakan.

 

Adat dan Budaya

Tongkonan

Tongkonan merupakan rumah adat suku Toraja yang berupa bangunan dengan ukuran yang sangat besar.

Arsitektur dari rumah adat Toraja memiliki sudut kemiringan atap yang tajam karena wilayah ini memiliki curah hujan yang cukup besar.

Di kawasan Tana Toraja cukup banyak pohon bambu sehingga atap ataupun plafon dari rumah adat Toraja banyak yang menggunakan bambu.

Masing-masing dari rumah adat Toraja biasanya memiliki ragam ornamen hias yang berbeda yang digunakan untuk menghiasi tiang dan dinding sesuai dengan tradisi etnis dari pemilik rumah.

Tongkonan mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Toraja di mana tingkatannya sendiri terbagi menjadi 4 bagian.

Berikut ini adalah 4 tingkatan dari Tongkonan :

1. Tongkonan Layuk = Merupakan rumah untuk membuat peraturan adat istiadat Toraja.

2. Tongkonan pokamberan (pokaindoran) = Merupakan rumah adat untuk melaksanakan perintah dan aturan adat dalam suatu masalah daerah.

3. Tongkonan batu a’riri = Hanya memiliki peran sebagai tiang batu keluarga serta tidak memiliki fungsi dan peranan sebagai tempat pembinaan dan persatuan keluarga serta tempat pembinaan warisan dari keturunan pertama dari tongkonan tersebut.

4. Tongkonan Pa’rapuan = Memiliki peran seperti tongkonan batu a’riri namun seluruh bangunan rumah adat Toraja memiliki fungsi dan peranan tertentu.

 

Ukiran Kayu

Suku Toraja memiliki ukiran kayu untuk menunjukkan konsep sosial dan keagamaan karena bahasa Toraja tidak mempunyai sistem tulisan dan hanya diucapkan saja.

Perwujudan dari budaya Toraja berupa ukiran kayu ini disebut dengan Pa’ssura (tulisan) di mana masing-masing dari ukiran kayu memiliki nama-nama sendiri.

Ukiran kayu Toraja biasanya menggunakan motif tanaman dan hewan yang menjadi simbol kebajikan, misalnya tanaman gulma air ataupun kesuburan yang dilambangkan dengan kecebong.

Ukiran kayu Toraja biasanya terdiri dari beberapa panel yang melambangkan sesuatu misalnya kerbau sebagai simbol kekayaan, kotak dan simpul sebagai simbol suatu harapan semoga seluruh keturunan dalam keluarga akan hidup damai dan bahagia.

Untuk ukiran kayu dengan motif hewan air menunjukkan pentingnya bekerja keras dan bergerak dengan cepat seperti hewan yang bergerak di dalam air. 

 

Upacara adat

Kabupaten Tana Toraja memiliki upacara adat sangat terkenal dan tidak bisa ditemukan di daerah lain ataupun negara lain, misalnya upacara untuk pemakaman (Rambu Solo) ataupun upacara untuk syukuran (Rambu Tuka).

 

Upacara Rambu Solo

Upacara Rambu Solo merupakan salah satu adat istiadat suku Toraja yang sudah diwariskan secara turun temurun.

Tradisi ini mewajibkan supaya keluarga yang baru saja kehilangan anggota keluarganya untuk mengadakan pesta sebagai bentuk penghormatan terakhir yang dilakukan untuk mendiang yang telah meninggal dunia.

Upacara Rambu Solo sendiri di dalam pelaksanaannya terbagi dalam beberapa tingkatan yang sesuai dengan strata sosial dari masyarakat Toraja, yaitu :

Dipasang Bongi = Upacara pemakaman ini hanya dilaksanakan selama 1 malam.

Dipatallung Bongi = Upacara pemakaman ini dilaksanakan selama 3 malam dan dilakukan di rumah dan disertai dengan pemotongan hewan.

Dipalimang Bongi = Upacara pemakaman ini dilaksanakan selama 5 malam dan dilakukan di sekitar rumah yang disertai dengan pemotongan hewan.

Dipapitung Bongi = Upacara pemakaman ini  dilaksanakan selama 7 malam di mana untuk setiap harinya harus disertai dengan pemotongan hewan.

 

Pada umumnya untuk upacara tertinggi dilakukan selama 2 kali dalam waktu kurang dari satu tahun.

Aluk Pia merupakan upacara pertama yang dilaksanakan di daerah sekitar Tongkonan keluarga yang merasa berduka.

Sedangkan upacara Rante merupakan upacara kedua yang dilaksanakan di sebuah lokasi khusus yang terbuka seperti lapangan karena dalam upacara yang merupakan puncak dari prosesi pemakaman ini juga dibutuhkan berbagai ritual adat lain.

Ritual adat lain yang harus dilakukan adalah membungkus jenazah (Ma’tundan, Mebalun), membubuhkan ornamen dari benang perak dan emas pada peti jenazah (Ma’roto), menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan (Ma’Popengkalo) serta mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir (Ma’Palao).

Dalam prosesi ritual dari upacara Rambu Solo anda bisa melihat tontonan yang menarik dari kegiatan budaya Adu Kerbau yang disebut dengan Mapasilaga Tedong.

Kerbau yang ada di Tana Toraja mempunyai ciri-ciri fisik yang sulit untuk ditemui di daerah lain di Indonesia, yaitu Tedong Bonga.

Harga dari Tedong Bonga yang memiliki ciri fisik berkulit belang sampai tanduk yang bengkok ke bawah bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Upacara Rambu Solo biasanya disertai dengan tari-tarian Pa’Dondi, Pa’Badong, Pa’Katia, Pa’Randing, Passailo, Pa’pasilaga Tedong serta Pa’papanggan.

Sedangkan untuk seni musik dalam upacara Rambu Solo biasanya diiringi dengan Unnosong, Pa’dali-dali serta Pa’pompang.

Di dalam upacara Rambu Solo biasanya ada proses pemotongan kerbau yang dilaksanakan hanya dengan sekali tebas menggunakan parang.

Proses pemotongan kerbau ini biasanya dilakukan pada Simbuang Batu yang merupakan tambatan pada sebuah batu.

Sebelum prosesi upacara Rambu Solo berakhir keluarga mendiang diharuskan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

 

Umpoya Angin Dan Mangrambu Tampak Beluak          

Umpoya Angin (memukat angin) dan Mangrambu Tampak Beluak (melakukan upacara dengan menggunakan ujung atau sisa rambut) mirip seperti upacara Rambu Solo, hanya saja dalam upacara ini dilakukan tanpa menggunakan jenazah dan hanya dilakukan dengan membungkus rambut atau ujung kuku dan bisa juga dengan membungkus angin.

Upacara ini hanya dilakukan jika ternyata orang yang akan diupacarakan meninggal di luar wilayahnya, dan yang diberikan hanya potongan kuku, ujung rambut ataupun hanya kabar.

Jika ada orang yang meninggal dunia maka harus dilakukan upacara ini supaya arwahnya bisa diterima sebagai arwah yang baik di Puya dan bisa menjadi Tomembali Puang yang memperhatikan keturunannya.

Keyakinan dalam upacara ini adalah seseorang yang meninggal di luar daerahnya bisa diupacarakan dengan suatu cara tertentu yang wajar meskipun lokasi dari mayatnya masih belum bisa diketahui.

Untuk upacara yang demikian bisa dilakukan dengan 2 metode yaitu Di poyan angin atau melalui upacara Mangrambu Tampak Beluak.

 

Upacara Dipoyan Angin

Upacara ini dilakukan jika letak dari jasad seseorang yang meninggal masih belum diketahui atau ditemukan misalnya tenggelam di laut sehingga tidak bisa mendapatkan pakaiannya, ujung kuku ataupun ujung rambut.

Prosesi dari Upacara Dipoyan Angin ini dimulai dengan seluruh keluarga dari pihak yang meninggal dunia pergi ke puncak gunung lalu memukat angin dengan menggunakan sebuah sarung yang masih baru.

Cara memukat angin dilakukan dengan cara mengikat salah satu ujung sarung lalu diarahkan ke arah angin yang sedang berhembus.

Jika sarung sudah menggembung maka para wanita akan menangisinya lalu dari pihak laki-laki mengikat ujung sarung yang lainnya sehingga sarung menjadi menggembung.

Diyakini bahwa pada saat itu roh dan nyawa dari seseorang yang sudah meninggal akan masuk ke dalam sarung tersebut.

Setelah itu sarung yang berisi angin tersebut akan dibawa ke Tongkonan lalu dibungkus hingga terlihat agak mirip dengan balon yang dianggap sebagai replika atau perwujudan jenazah dari seseorang yang sudah meninggal.

Sarung yang sudah berisi angin ini kemudian akan diperlakukan seperti jenazah dan akan diupacarakan sesuai dengan kasta dari orang yang sudah meninggal.

Biasanya Upacara Dipoyan Angin dilakukan bersamaan dengan upacara dipasangbongi tetapi dengan memotong lebih dari satu 1 ekor kerbau dimana  balulang (kulit) dari kerbau harus diiris dengan dagingnya dan tidak boleh dilepas.

 

Upacara Mangrambu Tampak Beluak

Upacara Mangrambu Tampak Beluak meripakan suatu upacara pemakaman yang dilakukan dengan menggunakan ujung kuku, rambut ataupun pakaian dari seseorang yang sudah meninggal dunia.

Menurut kepercayaan suku Toraja diyakin bahwa ujung kuku atau rambut bisa mewakili jenazah aslinya sehingga bisa diupacarakan sesuai dengan kasta dari jenazah.

Tidak jarang ada pihak keluarga yang menggali tulang belulang dari jenazah lalu diupacarakan di daerahnya.

Waktu melakukan penggalian tulang belulang yang disebut dengan Mangkaro batang Rabuk, maka lubang galian harus diganti dengan menguburkan seekor hewan lain, biasanya babi atau ayam.

Menurut kepercayaan suku Toraja, seseorang yang sudah meninggal dunia harus diupacarakan meskipun jenazah masih belum ditemukan.

Selain itu diyakini bahwa roh dari manusia yang meninggal dunia akan menjadi Tomembali Puang yang bisa memberikan berkah pada seluruh keturunannya.

 

Upacara Rambu Tuka

Upacara Rambu Tuka merupakan sebuah upacara yang berhubungan dengan acara syukuran seperti di daerah lain di Indonesia, misalnya sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen, untuk acara pernikahan, acara pertemuan dari semua rumpun keluarga ataupun sebagai ungkapan rasa syukur atas rumah yang baru selesai direnovasi.

Upacara Rambu Tuka ini bisa membuat jalinan hubungan keluarga menjadi lebih dekat dan erat dimana keseluruhan dari upacara tersebut dikenal dengan nama Meroek, Ma’Bua’ atau Mangrara Banua Sura’.

Upacara Rambu Tuka biasanya juga disertai dengan seni tari Toraja misalnya Pa’ Gellu, Pa’ Boneballa, Gellu Tungga’, Ondo Samalele, Pa’Dao Bulan, Pa’Burake, Pa’Tirra’, Panimbong, Maluya, Memanna, dan sebagainya.

Sedangkan seni musik yang biasanya mengiringi upacara Rambu Tuka adalah Pa’pompang, Pa’pelle’ serta Pa’Barrung.

 

Sejarah

Sejarah Suku Toraja

Asal kata Toraja berasal dari “to riaja” yang merupakan bahasa Bugis yang artinya adalah “orang yang tinggal di negeri atas”.

Pada tahun 1909 pemerintahan Belanda memberi nama suku yang tinggal di Tana Toraja ini dengan nama suku Toraja.

Suku Toraja sendiri adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan yang dikenal memiliki ritual pemakaman, rumah adat tongkonan beserta ukiran kayunya.

Ritual pemakaman termasuk peristiwa sosial yang penting bagi masyarakat Toraja dimana biasanya acara ini akan berlangsung selama beberapa hari dan dihadiri oleh orang banyak.

Sebelum tahun 1900 suku Toraja masih tinggal di desa-desa otonom dimana mereka masih belum tersentuh dengan dunia luar dan masih menganut kepercayaan animisme.

Setelah misionaris asal Belanda datang ke Toraja untuk menyebarkan agama Kristen pada tahun 1900 awal maka suku Toraja sudah mulai terbuka terhadap pengaruh dari dunia luar.

Pada sekitar tahun 1970 Tana Toraja mulai dipelajari oleh antropolog dan dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata hingga akhirnya Tana toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia.

Pada sekitar tahun 1990 masyarakat Toraja mengalami perubahan budaya dimana yang tadinya masih tradisional dan agraris, berubah menjadi masyarakat yang mengandalkan sektor pariwisata.

 

Sejarah Tana Toraja

Asal suku Toraja dipercaya berasal dari teluk Tonkin yang berada di antara CIna Selatan dan Vietnam Utara sebelum akhirnya terjadi akulturasi antara imigran asal Cina dengan ras Melayu yang ada di Sulawesi.

Pada mulanya imigran asal Cina tersebut menetap di wilayah pantai Sulawesi sebelum akhirnya memutuskan pindah ke dataran tinggi.

Pada sekitar tahun 1700 an Belanda melalui VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) telah mulai menancapkan kekuasaan politik dan perdagangan di Sulawesi.

Selama sekitar 2 abad pemerintah kolonial Belanda mengacuhkan tempat suku Toraja tinggal yang terletak di dataran tinggi Sulawesi Tengah karena wilayah ini sulit dicapai serta memiliki lahan yang kurang produktif.

Pada abad ke-19 akhir pemerintah kolonial Belanda mulai merasa resah terhadap perkembangan ajaran Islam yang menyebar dengan pesat terutama pada suku Bugis dan Makassar.

Pemerintah Belanda sendiri berpandangan bahwa suku Toraja yang menganut animisme merupakan potensi yang sangat empuk untuk dikristenkan.

Pada sekitar tahun 1920 an misi penyebaran agama Kristen yang dilakukan oleh misionaris yang dibantu oleh pemerintah kolonial Belanda telah berjalan dengan sukses.

Selain membantu menyebarkan agama Kristen, pemerintah Belanda juga membuat kebijakan untuk menghapus sistem perbudakan serta menerapkan pajak daerah.

Pada mulanya Tana Toraja merupakan subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut.

Pada tahun 1946 pemerintah kolonial Belanda telah memberikan status Tana Toraja sebagai regentschap, sebelum akhirnya pada tahun 1957 pemerintah Indonesia mengakui wilayah ini sebagai suatu kabupaten.

Suku Toraja memberikan perlawanan yang kuat pada misionaris Belanda yang baru saja datang karena jalur perdagangan yang menguntungkan Toraja telah dihapus oleh pemerintah Belanda.

Pemerintah Belanda memindahkan sebagian masyarakat Toraja secara paksa supaya lebih mudah untuk mengatur mereka.

Pada saat itu pemerintah Belanda telah menerapkan biaya pajak yang tinggi karena mereka memiliki tujuan supaya kekayaan elit masyarakat Toraja bisa tergerus.

Walaupun demikian, usaha pemerintah kolonial Belanda tersebut tidak bisa merusak kebudayaan toraja dan yang menjadi Kristen hanya sebagian kecil masyarakat toraja yaitu 10% dari seluruh masyarakat Toraja (tahun 1950).

Pada sekitar tahun 1930 penduduk Muslim yang tinggal di dataran rendah menyerang masyarakat Toraja sehingga sebagian besar masyarakat Toraja terpaksa berpindah ke agama Kristen untuk mendapatkan perlindungan politik dari pemerintah Belanda.

Selain itu upaya aliansi tersebut juga dilakukan supaya mereka bisa membentuk gerakan perlawanan dengan lebih baik terhadap orang-orang Makassar dan Bugis yang beragama Islam.

Sejak tahun 1952 hingga tahun 1965 pasca kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan di mana Darul Islam melakukan pemberontakan yang ingin mendirikan negara Islam di Sulawesi.

Perang gerilya yang telah berlangsung lama tersebut membuat semakin banyak masyarakat Toraja yang berpindah ke agama kristen.

Pada tahun 1965, Presiden Ir Soekarno telah mengeluarkan sebuah dekret yang mewajibkan supaya seluruh penduduk Indonesia menganut salah satu dari lima agama yang diakui yaitu Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu.

Aluk yang merupakan kepercayaan asli Toraja tidak diakui secara hukum sehingga suku Toraja berupaya menentang dekrit yang dikeluarkan presiden tersebut.

Supaya  aluk sesuai dengan hukum di Indonesia maka Aluk harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi dimana pada akhirnya pada tahun 1969 Aluk To Dolo diresmikan sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

 

Objek Wisata

Sebagian besar dari objek wisata yang ada di Tana Toraja adalah objek wisata alam yang sebagian di antaranya sudah dikenal dengan baik oleh wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Objek wisata yang ada di Tana Toraja bernuansa tradisional dimana hal ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Tana Toraja memiliki berbagai objek wisata yang menarik yang memiliki daya tarik dan ciri khas yang berbeda.

Objek wisata terkenal yang ada di Tana Toraja antara lain Tongkonan Tumbang Datu-Bebo, panorama Buntu Burake, air terjun Sarambu Assing, Agro Pango-Pango, wisata Sirope, dinding pahat Lemo, perumahan adat Sillanan serta pemandian alam Tilangnga.

 

Buntu Burake

Kabupaten Tana Toraja mempunyai cukup banyak pilihan potensi pariwisata, walaupun masih belum digarap dengan maksimal.

Salah satu potensi wisata yang ada di kabupaten Tana Toraja adalah Buntu Burake yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Buntu Burake merupakan salah satu tempat yang memiliki potensi wisata yang sangat menarik yang terletak di Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja.

Arti dari kata Buntu (bahasa Toraja) jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah gunung atau bukit.

Nantinya Buntu Burake akan menjadi tempat wisata yang memiliki pemandangan alam yang indah sekaligus menjadi tempat wisata religius.

Diharapkan kawasan wisata Buntu Burake akan melengkapi wisata budaya Toraja yang sudah ada sehingga selain memiliki wisata seni dan budaya, Tana Toraja juga memiliki wisata alam dan rohani.

Hingga saat ini Buntu Burake masih dalam proses untuk menjadi objek wisata religi umat Kristiani di mana nantinya akan dibangun patung Yesus Kristus yang pembangunannya akan dimulai pada tahun 2013.

Kabarnya patung Yesus Kristus yang nantinya akan menjadi lokasi ziarah bagi umat Kristen ini akan menjadi menara yang tertinggi di dunia yang tingginya akan mencapai 40 meter.

Tinggi dari menara kristus tersebut diambil dari legenda sejarah 40 tahun perjalanan bangsa Israil. Jika sudah terealisasi maka menara ini akan mengalahkan rekor menara Kristus yang ada di kota Rio De Jeaniro Brasil.

Nantinya patung Yesus Kristus yang berukuran besar di puncak gunung ini akan melengkapi keberadaan Buntu Burake sebagai lokasi ziarah bagi umat Kristen.

Proses dari pembangunan kawasan objek wisata religi ini diperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar 3 tahun ke depan.

Hingga saat ini masih ada sebagian jalan yang masih belum diaspal, namun sebagian besar jalan menuju lokasi wisata sudah diaspal.

Pada saat ini pembangunan jalan wisata menuju Buntu Burake sepanjang 400 meter sudah rampung. Selain itu areal parkir kendaraan yang terletak puncak Buntu Burake dengan ketinggian sekitar 1.000 meter dari permukaan laut juga sudah rampung.

Walaupun jalan wisata menuju Buntu Burake dari Paku Pangleon masih belum diaspal namun sepeda motor dan mobil bisa melintasi tempat ini.

Mobil yang dari atau menuju ke puncak Buntu Burake tidak akan mengalami kesulitan saat melintasi jalur tersebut karena badan jalan sepanjang 400 meter yang ada di tempat ini terdiri dari batu cadas yang dipahat.

Nantinya di puncak Buntu Burake ini akan dibangun pula 7.777 buah anak tangga. Jumlah anak tangga ini sesuai dengan ajaran Aluk Sanda Pitunna (Aluk 7777) yang merupakan keyakinan awal suku Toraja.

Ajaran tersebut merupakan aturan hidup dan susunan agama atau Ajaran Sukaran Aluk, yaitu Aluk Tallu Oto’na dari suku Toraja.

Aluk Tallu Oto’na sendiri adalah ajaran tri tunggal atau tiga kepercayaan, yaitu  Puang Matua, Deata-deata dan Tomembali Puang.

Ajaran tersebut digabung dengan Aturan Kehidupan Ada’ A’pa’ Oto’na yang merupakan Ajaran kehidupan falsafah empat.

Ajaran kehidupan falsafah empat itu adalah persekutuan hidup manusia (Aluk Ma’lolo Tau), Persekutuan hidup hewan (Aluk Patuoan), Persekutuan hidup tanaman (Aluk Tananan) dan Persekutuan hidup rumah (Aluk Bangunan Banua).

Penggabungan dari Aluk Tallu Oto’na dan Ada’ A’pa’ Oto’na ini menghasilkan Aluk Sanda Pitunna (Aluk 7777).

Dalam ajaran tersebut dinyatakan bahwa aturan kehidupan dan agama adalah berasal dari Sang Pencipta (Puang Matua) yang diturunkan pada Datu Laukku’ yang merupakan nenek moyang manusia yang pertama.

 

Wisata Di Buntu Burake

Di Buntu Burake anda bisa menikmati pemandangan alam di mana anda bisa melihat dengan jelas bandara Pontiku di Ranteyo dan Kota makale dari puncak Buntu Burake.

Di Puncak Buntu Burake terdapat berbagai jenis tumbuhan dan goa. Anda tidak perlu merasa khawatir terhadap adanya ular walaupun di tempat ini masih terdapat pepohonan dan ilalang yang cukup rimbun.

Menurut penuturan warga setempat yang ada di tempat ini diperoleh keterangan bahwa pengunjung tidak perlu takut ular karena di puncak Buntu Burake tidak ada ular yang hidup.

Ke depannya nanti lokasi ini akan dijadikan sebagai land mark dari kota Makele yaitu lingkungan yang sehat dengan alam yang terbuka dan bersih.

Di sisi lain di tempat ini terdapat kluwek atau tanaman pangi yang merupakan tanaman endemik di mana seluruh bagian bisa dimakan termasuk dengan kulitnya.

Terutama pammarrasan yang merupakan isi paling dalam di mana bagian ini biasanya dijadikan sebagai campuran masakan dengan ikan, daging atau sayuran untuk menambah kelezatan masakan.

Bagian ini biasanya juga dijadikan sebagai bahan dari salah satu masakan tradisional yang merupakan salah satu ciri khas dari Tana Toraja yaitu pantollo’ pammarrasan.

Di tempat ini anda juga bisa menjumpai penyadap tuak dari pohon ijuk dimana jenis minuman ini biasanya digunakan sebagai keperluan upacara adat masyarakat setempat.

 

Cara menuju ke Buntu Burake

Buntu Burake terletak sekitar 2 km dari Kota Makale. Untuk menuju ke Buntu Burake anda bisa menggunakan beberapa akses jalan yang langsung menuju ke puncak Buntu Burake.

Misalnya melalui belakang telkom atau jalan Buisun, jalan disamping hotel Puri Artha serta Sepon yang ada di samping kantor kementrian agama yang kemungkinan akan membutuhkan waktu sekitar 20 menit jika menggunakan kendaraan.

 

Tumbang Datu-Bebo

Tumbang Datu-Bebo merupakan salah satu perkampungan adat yang berada di Kecamatan Sangalla Utara. Perkampungan ini terletak sekitar 7 km dari kota Makale.

Di Tumbang Datu-Bebo anda bisa menemukan banyak rumah adat Tongkonan Karuaya, mata air, lapangan upacara adat religi tua, kuburan bayi di pohon, pemakaman purba, dan sebagainya.

Di kawasan desa wisata Tumbang Datu-Bebo tepatnya pada wilayah To`Sendana atau Pata` anda bisa menemukan peninggalan sejarah benteng pertahanan purbakala di Padang yang dijelmakan sebagai persatuan masyarakat Toraja dengan semboyan “misa kada diputuo pantan kada diomate”.

Masyarakat Toraja yang ada di kawasan ini benar-benar masih memegang erat tradisi. Di sekitar puncak bukit terdapat Basse Kasalle yang merupakan sebuah pohon cendana yang menjadi peringatan perjanjian antar suku Toraja.

 

Air Terjun Sarambu Assing

Sarambu Assing berada di Kecamatan Bittuang bagian barat Kabupaten Tana Toraja atau sekitar 35 kilometer dari kota Makale.

Sarambu Assing merupakan kawasan objek wisata yang terkenal dengan hutan yang masih asri dan air terjun yang berasal dari pegunungan.

Sarambu Asing berasal dari 2 suku kata dalam bahasa Toraja, yaitu Sarambu dan Assing. Sarambu artinya adalah air terjun sedangkan Assing artinya adalah nama dari tempat dimana air terjun itu berada.

Di tempat yang nantinya akan dikembangkan menjadi tempat wisata terpadu ini anda bisa menikmati pemandangan air terjun yang akan membuat anda merasa terpesona.

Tempat wisata ini sangat cocok jika digunakan untuk mendaki gunung, bersepeda, tracking ataupun berkemah karena tempat wisata ini memiliki hutan yang alami dan udara yang sangat sejuk.

Di sekitar kawasan tempat wisata ini anda akan melihat butiran kabut dari air terjun dan pemandangan dari barisan pohon pinus yang sudah berusia puluhan tahun.

Anda akan merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa dahan daun pinus. Tentunya hal ini akan membuat anda merasa damai dan tenang.

Sebenarnya lokasi dari objek wisata ini sudah ditemukan sejak lama, namun baru diburu oleh wisatawan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Sarambu Assing memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi objek wisata alam, terutama setelah tempat wisata air terjun Sarambu Assing dibuka untuk umum.

Objek wisata Sarambu Assing juga memiliki  potensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata alam di mana Sarambu Assing sudah  mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan Nusantara terutama pada hari libur dan akhir pekan.

Diyakini bahwa pengunjung yang menuju ke objek wisata yang dikembangkan oleh pemerintah Kabupaten Tana Toraja ini akan terus  bertambah karena tempat wisata ini dikenal bisa membuat pengunjung tidak mudah merasa bosan dan selalu merasa selalu ingin kembali ke tempat wisata ini.

 

Cara Menuju Ke Air Terjun Sarambu Assing

Untuk menuju ke Air Terjun Sarambu Assing anda bisa menggunakan mobil atau motor dari kota Makele melalui jalan utama yang menjadi penghubung antara Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Tana Toraja.

Sepanjang perjalanan anda akan melihat pemandangan hutan pinus dengan kondisi jalan yang cukup bagus yang sudah beraspal dengan lebar jalan sekitar 9 meter.

Sedangkan untuk  akses masuk ke kawasan wisata anda bisa melaluinya anda bisa melalui jalan setapak dengan lebar jalan sekitar 2 meter.

 

Pango-Pango

Tana Toraja yang dikenal memiliki pemandangan alam yang indah dan natural mempunyai daya tarik yang mempesona bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Salah satu kawasan yang memiliki pemandangan alam yang indah di Toraja adalah Pango-pango yang berada di perbatasan antara kelurahan To’sapan dan Sapan yang terletak sekitar 7 km dari kecamatan Makele Selatan kota Makele.

Suasana di sekitar kawasan Pango-pango cukup asri dan sejuk belum ditambah dengan adanya berbagai tanaman hutan dan kabut yang terlihat di pagi hari.

Di kawasan ini anda bisa melihat panorama yang indah dengan latar belakang pegunungan yang diselimuti kabut dan pemandangan kota Makele yang ada di lembah.

Melalui puncak kawasan yang termasuk hutan hujan tropis dengan ketinggian sekitar 1.100 meter dpl ini anda bisa melihat pemandangan sekitar dengan lebih jelas.

Selain itu dari kawasan ini anda juga bisa melihat lokasi lain yang ada di Toraja seperti Bebo di Sangalla, Buntu Kandora dan Sinaji di Mengkendek, Buntu Sopai dan Sesean, serta Buntu Burake dan Sikolang di Makale.

Selain bisa menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam anda juga bisa melihat hasil pertanian dan perkebunan masyarakat setempat seperti jagung, kopi, tomat, kentang, wortel, kakao dan sebagainya.

Pemkab Tana Toraja rencananya akan menjadikan kawasan Pango-pango sebagai agrowisata dimana setiap pengunjung yang datang ke tempat ini bisa langsung memetik dan menikmati hasil perkebunan dan pertanian dari kebun milik masyarakat setempat.

Selain itu direncanakan kawasan sekitar Pango-pango akan dijadikan sebagai kiblat percontohan untuk tanaman tamarillo, markisa serta wortel.

Di kawasan Pangopango terdapat sumber mata air yang tidak pernah kering dimana sumber mata air ini dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk konsumsi serta untuk pengairan pertanian.

Pengolahan pertanian dan perkebunan di Pango-pango masih bersifat tradisional dan tidak menggunakan pupuk anorganik ataupun pestisida sehingga seluruh hasil pertanian dan perkebunan dari masyarakat Pango-pango masih belum tercemar bahan kimia yang berbahaya.

Rencananya pada akhir tahun ini pembangunan dari berbagai fasilitas di Pango-Pango, seperti menara, pembangunan anak tangga menuju ke puncak, lahan gazebo dan ruang pertemuan kecil akan segera selesai.

 

Cara Menuju ke Pango-pango

Untuk menuju ke Pngo-pango anda bisa menggunakan jasa ojek dari Makale ke arah Santung yang kemungkinan membutuhkan biaya sekitar Rp 30 ribu.

 

Sirope

Sirope (sirompa) merupakan salah satu tempat pekuburan atau pemakaman batu pahat pada tebing batu kapur dengan tempat pemakaman purba yang terbuat dari kayu (erong) serta beberapa patung.

Asal nama dari Sirope sendiri berasal dari hasil musyawarah dari tokoh adat atau pemuka dari kampung Lion.

Kompleks pemakaman Sirope ini milik dari kaum bangsawan yang ada di sekitar wilayah Tondok Iring dan Lion.

Masyarakat setempat membuat erong dengan cara membuat liang kubur lalu digantung pada batu cadas atau tebing.

Menurut penuturan masyarakat Lion, erong merupakan salah satu cara terbaik yang bisa digunakan untuk menyimpan mayat.

Sirope merupakan tempat pekuburan unik yang tidak ada di tempat lain dimana lokasi pekuburan yang ada di tempat ini cukup luas dan tertata dengan rapi.

Di tempat pekuburan yang berjarak 2 km dari jalan makale-Rantepao ini anda bisa menyaksikan pemandangan yang indah di sekitar wilayah ini.

 

Dinding Pahat Lemo

Dinding pahat Lemo merupakan sebuah tempat pekuburan dinding berbatu yang terletak di Desa Lemo.

Lemo berasal dari bahasa Toraja, dimana artinya adalah kulit jeruk. Hal ini karena pekuburan utama di tempat ini memiliki dinding yang terlihat berkerut dan terlihat seperti kulit jeruk.

Di dalam lubang batu pemakaman anda bisa melihat adanya berbagai macam patung yang merupakan perwujudan dari seseorang yang sudah meninggal dan dimakamkan di tempat ini (Tau-tau).

Tau-tau yang menggambarkan sosok dari mendiang ini biasanya hanya digunakan oleh kaum bangsawan saja sehingga tidak semua kalangan bisa dibuatkan Tau-tau.

Setelah peti mati dimasukkan ke lereng bukit, di depan lobangnya akan dipasang patung ukiran yang terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat mirip dengan bentuk fisik dari jenazah.

Tau-tau sendiri terbuat dari kayu nangka yang cukup kuat. Sedangkan pada bagian mata dari Tau-tau terbuat dari tanduk dan tulang kerbau.

Sedangkan lemo merupakan salah satu kuburan alam dari leluhur Toraja yang dipahat pada abad ke-16 yang biasa disebut oleh warga setempat dengan Liang Paa’.

Jumlah liang batu kuno di pekuburan ini ada sekitar 75 buah dengan Tau-tau yang berdiri dengan tegak sebanyak 40 buah.

Pekuburan Batu Lemo yang ada di Toraja adalah kuburan tertua urutan kedua di Toraja setelah Songgi Patalo.

Posisi lubang kuburan yang semakin tinggi menunjukkan bahwa hubungannya semakin dekat dengan Tuhan ataupun sebagai simbol prestise, peran, status ataupun kedudukan bangsawan di Lemo.

Kuburan dari satu keluarga ditempatkan di tiap lubang dimana biasanya harta benda milik jenazah juga ikut dikuburkan, misalnya emas ataupun uang.

Anda bisa melihat mayat yang disimpan di tengah bebatuan atau alam terbuka di kompleks pemakaman yang merupakan perpaduan dari ritual, seni dan kematian ini.

Pakaian dari mayat yang sudah dikubur akan diganti pada waktu-waktu tertentu melalui upacara Ma Nene.

Masyarakat Toraja biasanya melakukan pesta besar-besaran pada saat sebelum dilakukannya proses memasukkan peti mati.

Peti mati tidak bisa dimasukkan ke dalam lereng bukit jika masih belum dilakukan pesta besar-besaran, sehingga tidak jarang ada peti mati yang disimpan hingga bertahun-tahun lamanya di Tongkonan.

Pada sisi dari pekuburan batu Lemo anda akan melihat adanya beberapa pintu yang berfungsi untuk memasukkan jenazah ke dalam kubur batu tersebut dimana pintu tersebut  biasanya ditutupi dengan bambu atau kayu.

 

Perumahan Adat Sillanan

Bila anda ingin menikmati liburan yang sangat menyenangkan dengan pemandangan alam yang sangat indah dan alami, serta suasana perkampungan yang masih asli maka anda bisa mengunjungi perkampungan adat tua Sillanan.

Perumahan adat Sillanan ini berada di lembang Sillanan, kecamatan Gandang Batu Sillanan, Tana Toraja.

Para wisatawan sering mengunjungi dan tidak jarang diantara mereka ingin tinggal lebih lama di Tongkonan Tua tersebut karena lokasi ini masih belum tersentuh dengan arus modernisasi dan memiliki pemandangan yang masih sangat alami.

Daya tarik dari perkampungan yang sudah berusia sekitar 974 tahun ini adalah Tongkonan dan rumah adat Toraja serta kuburan alam atau liang batu yang dilengkapi dengan kasopi pada dinding bukit batu.

Kasopi merupakan patung dari orang yang sudah meninggal atau Tau-tau yang dipahat dalam bentuk pohon.

Tau-tau ini berbeda Tau-tau yang ada di Toraja Utara yang biasanya diukir pada batang kayu. Kasopi tersebut hanya dipasang pada upacara ataupun kuburan dari para bangsawan.

Pada saat menuju ke lokasi perkampungan Sillanan anda akan melihat pemandangan dua pohon beringin besar yang ada di pintu masuk perkampungan dan pohon-pohon kopi yang berjejer di sisi kiri dan kanan anak tangga.

Menurut penuturan cerita dari warga setempat, pohon beringin tersebut sering dijadikan sebagai sarana ritual keagamaan pada saat Toraja masih menganut kepercayaan Alukta atau agama dari luar masih belum masuk.

Anda tidak akan menemukan loket karcis di tempat ini karena Dinas Pariwisata dari pemerintah masih belum menetapkan suatu peraturan khusus.

Selain itu tidak adanya loket karcis juga dengan alasan supaya tidak ada saling klaim kepemilikan dari pemilik Tongkonan yang ada du tempat ini.

Suasana perkampungan di Sillanan ini terlihat berbeda dengan kawasan lain yang ada di Toraja karena kawasan ini masih belum terjamah arus modernisasi.

Salah satunya adalah dengan adanya Tongkonan Sillanan yang sangat asli dan terlihat natural di mana rumah adat ini masih menggunakan Tallang atau atap yang terbuat dari bambu.

Walaupun terkadang sinar matahari terlihat menyengat namun anda akan tetap merasa sejuk karena di kawasan ini cukup banyak pohon yang tinggi dan berukuran besar.

Masyarakat setempat memanfaatkan lahan yang ada di sekitar Tongkonan untuk menanam berbagai macam jenis sayuran seperti labu siam, Tamarilo, markisa serta terong belanda.

Anda bisa mengambil buah-buahan ataupun sayuran yang ada di sini dengan gratis, namun dengan seijin pengelola lahan tentunya.

Daya tarik lain yang membuat tempat ini menjadi lokasi wisata yang menarik adalah adanya sejenis batu besar yang disebut dengan Simbuang.

Simbuang ini ditancapkan ke dalam tanah sebagai tanda peringatan atau prasasti dan sebagai tempat pelaksanaan berbagai upacara adat Toraja atau dikenal dengan rante (pantunuan).

Di perkampungan tua ini juga terdapat sebuah sumur tua yang diduga sudah berumur ratusan tahun lebih.

Masyarakat setempat menjadikan sumur ini untuk dikonsumsi ataupun sebagai sumur adat. Yang membuat sumur ini unik adalah air sumur ini jernih dan tidak pernah mengalami kekeringan meskipun sudah memasuki musim kemarau.

Masyarakat setempat bersama pemerintah kompak membangun jalan setapak supaya para pengunjung bisa menikmati pemandangan Sillanan seluas sekitar 3 km sambil berjalan kaki.

Di tempat ini sudah disediakan jalur khusus olahraga sehingga anda bisa tracking sekaligus menikmati pemandangan alam sekitar.

Pada sisi sebelah barat perkampungan terdapat bukit batu yang sangat cocok digunakan untuk paralayang atau panjat tebing. Selain itu anda juga bisa berkemah atau mendaki gunung di tempat ini.

Jika anda mendaki di tempat ini maka anda akan menikmati pemandangan dari benteng yang tidak dipagari yang terletak di puncak bukit yaitu benteng Tangdi Rompo.

Setelah tiba di puncak bukit ini, anda akan disuguhi dengan landscape atau pemandangan alam yang sangat indah. Sepertinya sayang jika anda tidak mengabadikan momen tersebut dengan kamera.

Untuk menuju ke tempat ini anda tidak akan membutuhkan waktu yang cukup lama, atau hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja dengan menggunakan motor atau mobil.

Setelah tiba di tempat ini anda harus berjalan kaki untuk menapaki anak tangga sebelum menuju ke Tongkonan Tua Sillanan.

Di tempat ini sudah tersedia 4 penginapan yang bisa menampung sekitar 15-20 orang. Selain itu anda juga bisa menggunakan rumah penduduk setempat untuk beristirahat atau menginap.

 

Pemandian Tilangnga

Tana Toraja memiliki pemandangan alam yang sangat indah dengan latar belakang pegunungan kapur. Pada bagian bawah dari pegunungan ini anda bisa menemukan pemandian Tilangnga.

Tilangnga yang ada di kelurahan Sarira Tana Toraja berjarak sekitar 15 km dari Rantepao atau 3 km dari jalan poros Rantepao.

Yang membuat kolam alami di tempat ini berbeda dari pemandian yang lain adalah karena ada beberapa belut bertelinga atau moa yang hidup di dalam kolam alami.

Hewan yang dalam bahasa Toraja disebut dengan Masapi ini terkadang terlihat keluar melalui batuan gamping yang ada di kawasan kolam.

Habitat sebenarnya dari hewan yang berukuran sebesar betis orang dewasa ini masih belum diketahui dengan pasti.

Meski terlihat sering menampakkan diri, hewan ini tidak bisa dipanggil dengan seenaknya karena ada aturan atau trik tersendiri jika ingin mengundang makhluk ini keluar dari rumahnya.

Caranya adalah dengan menyediakan telur bebek, lalu menjentikkan jari ke dalam air. Tidak lama kemudian Masapi akan keluar dari sarangnya.

Di sisi lain pemandian Tilangnga cukup sejuk dengan udaranya yang cukup sejuk. Di sekitar kolam terdapat pohon bambu dan pepohonan jati putih.

Air yang ada di dalam kolam biasanya dingin dan sangat jernih sehingga anda bisa merasakan segarnya air pegunungan sambil melihat bebatuan yang ada di dasar kolam dengan sangat jelas.

Anda diperbolehkan untuk berenang ataupun mandi di kolam ini, namun sebaiknya tidak menggunakan sabun ataupun produk lain untuk menjaga kelangsungan hidup Masapi yang hidup di dalam kolam.

Jika tidak ingin berenang di kolam, anda juga masih bisa merendam kaki anda di pinggir kolam. Ada kalanya Raja Moa atau Masapi yang berukuran besar akan terlihat di antara bebatuan kolam.

Menurut penuturan warga setempat Masapi dipercaya bisa membawa keberuntungan, terutama masapi Bonga yang ciri-ciri fisiknya berwarna hitam dan putih.

Tarif yang harus dibayar untuk masuk ke tempat pemandian ini bisa dibilang cukup murah yaitu 5 ribu rupiah  untuk orang dewasa dan seribu rupiah untuk anak-anak, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan tarif masuk sebesar 10 ribu rupiah.

Objek wisata ini sengaja dibiarkan alami dan apa adanya oleh pengelola pemandian Tilangnga dengan alasan suasana yang seperti inilah yang biasanya dicari oleh wisatawan domestik ataupun mancanegara.

 

Legenda Di Pemandian Tilangnga

Pemandian Tilangnga memiliki cerita legenda yang unik. Di dalam goa ajaib yang berada di sekitar pemandian Tilangnga terdapat sebuah patung yang mirip dengan ibu dan anaknya dalam posisi jongkok.

Patung ini sering dikunjungi oleh para wisatawan, terutama bagi pasangan yang sudah berumah tangga cukup lama, tapi masih belum dikaruniai anak.

Tempat ini biasanya digunakan untuk berdoa dan memohon supaya diberi keturunan yang syaratnya adalah dengan membawa dupa dan sesajian berupa telur, lalu sambil memegang payudara sang ibu.

Jika doa dan permohonan dikabulkan maka payudara ibu akan mengeluarkan cairan putih yang mirip dengan ASI.

Setelah itu air yang keluar dari payudara sang ibu tersebut  diminum dan dalam beberapa bulan ke depan biasanya pasangan suami isteri bisa memiliki keturunan.

Selain itu di pemandian Tilangnga juga terdapat 2 pohon besar yang biasanya digunakan sebagai tempat persembahan atau ritual masyarakat penganut Aluk Todolo.

Jika padi yang ada di sawah sudah terlihat berbulir maka masyarakat penganut Aluk Tolodo akan segera memotong babi sebagai korban dengan harapan supaya padi mereka tidak terserang hama.

Jika padi mulai terlihat menguning dan berbuah maka mereka akan segera memotong ayam di pematang sawah (Ma’pesung) sebagai simbol sesajian supaya mereka tidak gagal panen.

Legenda di permandian alam Tilangnga menyebutkan bahwa cerita ibu dan anak yang melanggar adat dengan berkata tidak senonoh atau mengumpat ditelaga suci pada waktu mencuci.

Setelah itu turun hujan deras yang disertai dengan petir walaupun mereka masih belum selesai mencuci sehingga mereka berdua memutuskan untuk berteduh dalam goa.

Ibu dan anak tersebut akhirnya harus menerima kutukan hingga akhirnya menjadi batu karena masih belum bertobat.

Meskipun di sekitar pemandian cukup banyak belut, ikan lele dan sebagainya namun para pengunjung tidak diperbolehkan untuk memancing atau mengganggunya karena bisa menimbulkan celaka hika dilanggar.

 

Wisata Kuliner

Di Tana Toraja tersedia cukup banyak warung dan restoran yang ada di sepanjang jalan. Jika anda menggunakan jasa travel maka anda tidak perlu bingung dengan urusan perut.

Menu khas Toraja yang bisa anda coba untuk dicicipi adalah sayur daun ubi yang ditumbuk, pantolo pamarassan, sate keong, pakpiong ayam, puding labu dan sebagainya yang biasanya disajikan dengan menggunakan alas daun pisang.

Pakpiong merupakan masakan khas Toraja yang terkenal. Bahan utama dari pakpiong adalah daging babi atau kerbau yang dipotong kecil-kecil.

Setelah itu daging dimasukkan ke dalam bambu muda bersama dengan daun miana dan bumbu. Kemudian bambu dibakar sampai gosong.

Untuk sayurnya biasanya menggunakan sayur mayana yang terkadang menggunakan batang pisang atau buah nangka muda.

Dan yang terakhir adalah kopi Toraja di mana kopi ini termasuk salah satu jenis kopi yang sangat terkenal di dunia khususnya bagi penggemar kopi.

Kopi toraja merupakan jenis coffee arabica (kopi arabika) yang bisa tumbuh dengan baik selama 3 bulan pertahun berturut-turut pada ketinggian antara 700 hingga 1.700 m dpl, dengan suhu rata-rata 16 – 20 °C.

 

Souvenir

Di Rantepao cukup banyak tersedia toko souvenir di mana anda bisa membeli berbagai macam barang khas Toraja misalnya tas, pakaian, kerajinan tangan, dompet dan sebagainya.

Di tempat ini anda juga bisa mengunjungi pasar tradisional Bolu kemudian mendapatkan kopi arabika atau robusta yang merupakan biji kopi Toraja yang berkualitas tinggi.

Di tempat ini anda juga bisa membeli berbagai macam kalung manik-manik khas toraja yang unik dan cantik.

Anda juga bisa melihat transaksi babi dan kerbau yang dilelang di pasar mingguan. Jumlah babi atau kerbau  yang diperjual belikan di pasar ini sangat banyak.

Di Lemo anda bisa membeli berbagai macam souvenir seperti kain tenun khas Toraja, kaos dengan gambar Tongkonan, kerajinan ukiran khas Toraja, peralatan rumah tangga yang terbuat dari kayu, dan sebagainya.

Kain tenun khas Toraja biasanya berwarna hitam polos dan ada juga yang ditambah dengan sedikit corak etnis khas Toraja.

Sarung hitam yang dijual dengan harga sekitar 250 ribu ini biasanya dikenakan oleh kaum lelaki yang digunakan pada acara-acara resmi atau upacara-upacara adat.

Sedangkan di pasar tradisional anda bisa menemukan berbagai buah-buahan atau sayuran khas Toraja seperti Tamarella, daun mianna, ataupun lada katokkon.

Daun miana biasanya digunakan sebagai bumbu masakan khas Toraja. Daun miana mempunyai aroma dan cita rasa yang khas.

Selain digunakan sebagai masakan, daun ini juga bisa digunakan sebagai obat ataupun untuk mencegah penyakit maag dan asma.

Lada katokkon merupakan  cabe khas Toraja yang terlihat mirip seperti paprika, hanya saja ukurannya lebih kecil.

Pada saat masih muda cabe ini berwarna hijau, sedangkan saat matang cabe ini akan berubah menjadi merah.

Lada katokkon memiliki  aroma wangi yang khas dan sangat pedas di mana perbandingan 1 buah lada katokkon sebanding dengan sekitar 10 cabe rawit.

 

Event Toraja Lovely December   

Sepanjang bulan Desember 2012 ini ada sebuah even yang sebelumnya sudah dilakukan dalam 4 tahun terakhir yaitu even Toraja Lovely December.

Tujuan dari even ini adalah untuk mengumpulkan seluruh warga Toraja yang merantau di daerah lain supaya mereka bisa berkumpul kembali di tanah leluhur mereka Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo, Tondok Toraya tungka sanganna.

Even Toraja Lovely December ini diadakan oleh pemerintah kabupaten dan propinsi Sulawesi Selatan yang mencanangkan gerakan rindu Toraja atau Toraja Mamali.

Even yang telah diadakan sejak tahun 2008 ini sebelumnya telah mampu memikat animo wisatawan domestik ataupun mancanegara dengan berbagai atraksi budaya yang menarik dalam even Lovely Toraja December.

Diharapkan even yang sudah masuk dalam kalender tetap wisata nasional ini bisa menjadi ajang promosi adat dan budaya Toraja ke tingkat nasional ataupun mancanegara.

Untuk even Toraja Lovely December pada tahun ini panitia penyelenggara akan membuat gebrakan yang belum pernah dilakukan pada even sebelumnya yaitu dengan mengundang presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang nantinya akan menghadiri acara puncak perayaan pada tanggal 26 Desember 2012.

Selain itu 33 Gubernur dari seluruh Indonesia juga akan turu diundang ke dalam even Toraja Lovely December pada tahun ini.

Pada tahun ini ada 16 even pariwisata yang kegiatannya dikendalikan oleh Pemerintah Daerah Toraja Utara dan Tana Toraja.

Untuk even Toraja Lovely December pada tahun ini akan diadakan berbagai kegiatan seperti pementasan seni dan budaya, wisata alam, kontes kerbau, lomba menangkap ikan, lomba memancing, dan acara yang baru digelar pertama kali yaitu festival sungai.

Berikut ini adalah agenda resmi dari seluruh  kegiatan yang menarik dalam rangkaian even Toraja Lovely December 2012, diantaranya :

Tanggal 1 dan 2 Desember 2012 : Jelajah Sepeda Wisata

Tanggal 5 Desember 2012 : Rakit Tradisional di Bungin Pantan

Tanggal 7 Desember 2012 : Jalan Santai di Makale

Tanggal 10 Desember 2012 : Trekking di Burake Sangngalla

Tanggal 15 Desember 2012 : Lomba Mancing di Barereng Kurra

Tanggal 17 Desember 2012 : Panjat Tebing di Tana Toraja

Tanggal 18 Desember 2012 : Lomba Tangkap Ikan di Makale

Tanggal 20 hingga 25 Desember 2012 : Lomba Pohon Natal Hias di sepanjang jl Poros Salubarani-Rantelemo

Tanggal 20 hingga 31 Desember 2012 : Pameran Kuliner dan kerajinan di Makale

Tanggal 23 dan 26 Desember 2012 : Atraksi Tambahan Pertunjukan Seni dan Budaya dari Kabupaten di Sulawesi Selatan

Tanggal 26 Desember 2012 : Parade Busana Toraja

Tanggal 26 hingga 29 Desember 2012 : Saluputti Mamali di Saluputti Ulusalu

Tanggal 27 Desember 2012 : Puncak Toraja Lovely Desember dan Natal Oikumene

Tanggal 28 Desember 2012 : Reuni Katolik SMA Katolik di Makale

Tanggal 29 Desember 2012 : MAB II (Malam Apresiasi Budaya) di Lapangan Basket Makale

Tanggal 31 Desember 2012 : Pesta Kembang Api dan Tutup Tahun di Plaza Makale

 

Hotel  Di Tana Toraja

Sahid Toraja Hotel

Sahid Toraja Hotel merupakan sebuah hotel bintang tiga yang mempunyai posisi letak yang sangat strategis, yaitu berada di Jl. Raya Gettengan 1 Mengkendek 91811, Tana Toraja.

Di hotel ini anda bisa menikmati berbagai akses mudah ke semua tempat tujuan wisata yang ada di kota ini.

Hotel ini sangat cocok bagi para anda atau tamu bisnis yang ingin merasakan liburan yang benar-benar nyaman dan menyenangkan.

Sahid Toraja Hotel menawarkan fasilitas dan pelayanan kelas atas seperti restoran, ruangan khusus merokok, ruang keluarga, fasilitas rapat serta fasilitas parkir mobil.

Hotel yang memiliki 52 kamar ini juga menawarkan fasilitas lain seperti kolam renang, mini bar, taman hotel, lapangan tenis, bak mandi terpisah, tv satelit dan layanan laundry.

Alamat : Jl. Raya Gettengan 1 Mengkendek 91811, Tana Toraja

Telepon : (62-0423) 22444

Fax : (62-0423) 22167

 

Pantan Toraja Hotel

Pantan Toraja Hotel merupakan tempat yang ideal untuk menelusuri Tana Toraja. Dari sini anda bisa menikmati kemudahan ke semua hal yang bisa anda temukan di sebuah kota yang hidup.

Hotel yang berbintang dua dengan jumlah kamar sebanyak 48 kamar ini menawarkan berbagai macam fasilitas seperti restoran, coffe shop, layanan laundry, kolam renang, taman hotel, pijat dan televisi.

Pantan Toraja Hotel merupakan hotel yang sangat cocok jika anda ingin melepaskan lelah sambil bersantai di tempat wisata ini.

Alamat : Jl Pongtiku 116, Tana Toraja

Telepon : (62-0423) 22221

 

Cara Menuju ke Tana Toraja

Untuk menuju ke Tana Toraja anda bisa menggunakan jalur udara melalui Bandara Sultan Hasanuddin yang berada di Makassar, ibu kota provinsi Sulawesi Selatan.

Maskapai penerbangan dari Makassar juga melayani rute dari kote-kota besar di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Manado dan sebagainya.

Setelah tiba di Bandara Hasanuddin anda bisa menuju ke Tana Toraja dengan 2 pilihan transportasi, yaitu dengan menggunakan jalur darat dengan mobil atau jalur udara dengan menggunakan pesawat kecil.

Jika anda memilih menuju ke Tana Toraja dengan menggunakan mobil maka lama perjalanan yang anda butuhkan adalah sekitar 8 jam.

Namun jika anda memilih untuk menuju ke Bandara Pong Tiku, di Rantetayo Tana Toraja dengan menggunakan pesawat maka lamanya perjalanan yang anda butuhkan adalah 45 menit.

Pesawat yang menuju ke Tana Toraja hanya tersedia sebanyak 2 kali dalam seminggu, yaitu pada hari Selasa dan Jumat.

Alternatif lain untuk menuju ke Rantepao Tana Toraja adalah dengan menggunakan transportasi bus dari Makassar.

Bus akan berangkat dari terminal bus Daya. Jadwal keberangkatan bus ini adalah pada pukul 7 pagi, pukul 1 siang dan pukul 7 malam.

 

Tips Tambahan

1. Sebaiknya menggunakan pakaian yang bersih, sopan dan rapi selama berada di Tana Toraja.

2. Pada saat ingin memasuki rumah tradisional Tongkonan sebaiknya anda berhati-hati terutama pada kepala anda karena rumah tradisional ini memiliki lorong-lorong yang rendah.

3. Jika anda ingin menuju ke Tana Toraja dengan menggunakan mobil pribadi maka sebaiknya pastikan bahwa ban mobil anda sudah tepat karena sebagian jalan masih belum diaspal.

4. Jika anda ingin menjelajahi Tana Toraja hingga ke pelosok sebaiknya anda menyewa motor. Apalagi sebagian besar dari objek wisata yang ada di Tana Toraja termasuk wilayah pelosok dan tidak bisa dilalui dengan mobil.

Harga sewa motor ini biasanya Rp 80 ribu per hari dan sangat tergantung dari jenis dan kondisi motor.

5. Jika anda tidak menggunakan jasa guide dan merasa keingungan di Tana Toraja maka anda bisa bertanya pada penduduk sekitar.

Penduduk sekitar akan melayani anda dengan senang hati karena anda dianggap sebagai tamu kehormatan karena mengunjungi daerah mereka.

6. Usahakan untuk membawa bekal makanan, minuman ataupun barang kebutuhan lain karena ada kalanya jika sudah melintasi lereng gunung anda akan merasa kesulitan untuk menemukan warung atau toko.

7. Usahakan untuk sering buang air kecil meski anda tidak ingin buang air kecil karena di tempat ini cukup sulit untuk menemukan toilet.

Selain itu untuk kaum pria juga akan mengalami hal yang sama di tengah perjalanan di mana mereka tidak bisa buang air kecil dengan sembarangan karena sempitnya jalan yang ada di sana.

8. Jika anda memutuskan untuk membawa mobil pribadi maka usahakan supaya stok BBM benar-benar cukup karena di Rantepao hanya tersedia 2 SPBU.

9. Jika anda penggemar fotografi maka pastikan supaya anda membawa lensa wide ataupun tele.

Lensa tele bisa anda gunakan untuk mengabadikan obyek-obyek di tebing, sedangkan lensa wide bisa anda gunakan untuk mengabadikan Tongkonan atau pemandangan yang ada di sekitarnya.

 

Selamat berlibur di Tana Toraja !!

« (Previous Post)
(Next Post) »


One Comment to Tana Toraja

  1. septianlancip says:

    Min, bolehkan saya mendownload tulisan ini untuk bahan paper saya? kalo pun boleh, bagamana cara mendownloadnya ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2014: Tujuan Pariwisata | Travel Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress